Pada era pandemi Covid-19 saat ini, kita sering mendengar mengenai rapid test dan tes swab PCR. Apakah perbedaan dari keduanya? Apakah seseorang yang yang dikatakan non reaktif pada rapid test sudah pasti negatif Covid-19? Apa saja yang mempengaruhi akurasi hasil tes? Simak penjelasan singkat berikut.

                                        2 Metode yang Paling Familiar
Baku Emas Screening / penapisan
Metode: Swab RT-PCR

Spesimen lendir diambil dari rongga hidung dan rongga belakang mulut oleh tenaga medis profesional. Spesimen tersebut kemudian akan dikirim ke laboratorium untuk dicek materi genetiknya.

Metode: Rapid Antibody test

Darah kapiler yang diambil dari jari, atau plasma darah hasil sentrifugasi dari darah yang diambil di lengan diteteskan pada alat deteksi, ditetes dengan cairan buffer, kemudian dibaca hasilnya dalam 15 – 20 menit.

Interpretasi: Positif / Negatif

 

digunakan sebagai diagnosis pasti

Interpretasi: Reaktif / Non Reaktif

Hasil Reaktif terdiri atas:

1.    Reaktif IgM

2.    Reaktif IgG

3.    Reaktif IgM dan IgG

 

Hasil tidak dapat digunakan untuk diagnosis pasti.

 

IgM adalah antibodi yang lebih dulu muncul saat seseorang terinfeki suatu mikroorganisme. IgG muncul setelahnya. IgM akan cepat menghilang, sedangkan IgG akan bertahan dalam jangka waktu yang lama.

Sensitivitas: 90,3 – 99,7%

 

Sensitivitas adalah persentase kemampuan test untuk membaca positif sampel – sampel yang seharusnya positif.

 

Spesifisitas: Mendekati 100%

 

Spesifisitas adalah kemampuan test untuk memastikan bahwa hasil yang terbaca positif adalah benar – benar positif, bukan positif palsu.

Sensitivitas: beragam, tergantung merk, relatif kurang akurat.

 

Sensitivitas adalah persentase kemampuan test untuk membaca positif sampel – sampel yang seharusnya positif.

 

Spesifisitas: beragam, tergantung merk, relatif kurang akurat.

Spesifisitas adalah kemampuan test untuk memastikan bahwa hasil yang terbaca positif adalah benar – benar positif, bukan positif palsu.

Hal yang mempengaruhi hasil test:

1.    Kemampuan petugas medis dalam mengambil sampel lendir

2.    Waktu pengambilan sampel: berapa lama jarak waktu antara pengambilan sampel dengan pajanan virus

Hal yang mempengaruhi hasil test:

1.    Kadar antibodi di tubuh pasien

2.    Waktu pelaksanaan test: berapa lama jarak waktu antara pelaksanaan rapid test dengan pajanan virus

3.    Kualitas alat rapid test

Kesimpulan:

lebih akurat, untuk penegakan diagnosis

Kesimpulan:

kurang akurat, hanya untuk screening / penapisan

Metode lain:

  1. Rapid Antigen Test: mendeteksi keberadaan antigen virus Sars-Cov2 dari lendir rongga hidung dan rongga belakang mulut, lebih akurat daripada rapid antibody test.
  2. CT scan thorax: mendeteksi gambaran pada paru – paru yang mengarah ke diagnosis Covid-19.
  3. dllDari bagan berikut, tampak bahwa terdapat waktu yang paling ideal untuk dilakukan tes Covid-19 baik dengan PCR maupun rapid test. Terdapat window period di mana hasil tes tidak akan akurat, seseorang bisa saja terdeteksi negatif Covid-19 dengan tes swab PCR walau sudah terpapar virus Sars-Cov2 jika dilakukan tes pada periode ini. Hal ini terjadi karena virus masih berada dalam masa inkubasi dan sedang proses bereplikasi untuk memperbanyak diri.

 

Interpretasi Test Covid-19

  1. Swab positif, IgM non reaktif, IgG non reaktif =  Infeksi Baru Dimulai
  2. Swab positif, IgM reaktif, IgG non reaktif  = Menuju Puncak Infeksi
  3. Swab positif, IgM reaktif, IgG reaktif  = Mulai Turun dari Puncak Infeksi
  4. Swab positif, IgM non reaktif, IgG reaktif  = Menuju Sembuh
  5. Swab negatif, IgM non reaktif, IgG reaktif  = Sembuh

Selama masa pandemi, lengah bukanlah suatu pilihan. Mari menjalankan protokol kesehatan dengan tertib dan semoga kita semua selalu sehat. Tetap semangat, salam sehat!

Referensi:

Boger B., Fachi M.M., Vilhena R.O., Cobre A.F., Tonin F.S., dan Pontarolo R. (2020). Systematic review with meta-analysis of the accuracy of diagnostic tests for COVID-19. American Journal of Infection Control, 00 (2020), p 1 – 9.,  https://doi.org/10.1016/j.ajic.2020.07.011, diakses pada 3 Oktober 2020.

 

Afzal A. (2020). Molecular diagnostic technologies for COVID-19: Limitations and challenges. Journal of Advanced Research., https://doi.org/10.1016/j.jare.2020.08.002, diakses pada 3 Oktober 2020.

 

Sethuraman N., Jeremiah S.S., dan Ryo A. (2020). Interpreting Diagnostic Tests for SARS-CoV-2. JAMA. 2020;323(22):2249-2251. doi:10.1001/jama.2020.8259. https://jamanetwork.com/journals/jama/fullarticle/2765837, diakses pada 3 Oktober 2020.

 

Hits: 1468